Mereka Menodong Bung Karno

DESKRIPSI BUKU

Pengarang:  Soekardjo Wilardjito

Penerbit : Galangpress

Tempat Terbit : Yogyakarta

Tahun Terbit : 2008

Jumlah Halaman : 354

Nomor Panggil : 320.5 SOE

Lokasi : Perpustakaan Umum Magetan

Buku ini merupakan memoar saksi sejarah, seorang mantan tahanan politik selama 14 tahun, tanpa proses dan vonis pengadilan, ‘Di-PKI-kan’ oleh rezim Orde Baru  Mulai dari LP Wirogunan, LP Kalisosok, dan terakhir LP Ambon, hingga dibebaskan pada 1978.

Namanya mencuat setelah ‘membeberkan’ peristiwa Supersemar di Harian Umum Bernas, 22 agustus 1998. Hasilnya 29 kali persidangan dengan tuduhan ‘memberitakan kabar bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat’. Akhirnya pada 14 Agustus 2007, MA membebaskannya dari segala tuduhan.

Waktu itu dinihari, 11 Maret 1966 meenjadi saat-saat yang menggetarkan bagi Soekardjo Wilardjito. Ia menyaksikan sendiri satu sekuel sejarah kelam bangsa ini. Empat jenderal mendadak mengunjungi Istana Bogor, mereka adalah Jenderal M. Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, dan M. Panggabean. Mereka meminta Presiden Soekarno menandatangani sebuah surat yang sangat penting.

Setelah membaca surat tersebut, dengan nada terkejut, Bung Karno spontan berkata: “Lho, diktumnya kok diktum militer, bukan diktum kepresidenan!”. Surat itu tidak terdapat lambang Garuda Pancasila dan Kop surat tersebut bukan berbunyi Presiden Republik Indonesia, melainkan kop kiri atas, Markas Besar Angkatan Darat (Mabad).

Untuk merubah, waktunya sudah sangat sempit. Tanda tangani sajalah, Paduka. Bismillah sahut Basoeki Rachmat, yang diikuti oleh M. Panggabean mencabut pistol FN 46 dari sarungnya. Secepat kilat Soekardjo Wilardjito juga mencabut pistol.

Hal yang kiranya layak digarisbawahi dari buku ini, diantaranya, lepas apakah kita setuju atau tidak dengan penuturan Wilardjito, kita tahu peristiwa Supersemar masih menyimpan seribu misteri. Membentang dari latar belakang munculnya surat tersebut hingga dimana sekarang keberadaan naskah asli Supersemar, kalau memang “naskah asli” itu pernah ada. Buku ini menjadi penting bukan karena isinya “lebih benar” daripada isi buku-buku lain, melainkan karena buku-buku ini dapat mendorong diskursus lebih lanjut mengenai sejarah Insdonesia itu sendiri. mengajak kita untuk lebih tekun memahami masa silam, kemudian bersama merajut masa kini dan masa depan yang lebih baik

Buku mengenai politik Indonesia ini salah satu koleksi menarik Perpustakaan Umum Magetan. Ayo berkunjung …

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.